“ Kamu hati-hati ya
nak kalau naik motor, jalanan sekarang ramai dan jangan pulang terlalu malam
kalaupun mengerjakan tugas kuliah”. Suara ibu di telefon menasehatiku
“ Iya Bu,
InsyaAllah Wilna selalu hati-hati dan berusaha tidak pulang malam kalaupun ada
tugas kuliah, ada apa kok Ibu tiba-tiba berpesan seperti itu tanpa menanyakan
kabarku terlebih dahulu? Apa Ibu habis nonton berita TV tentang kecelakaan kah?
Kabar keluarga di Jombang baik-baik saja kan?” Jawabku lancar dengan signal
yang lancar di Rumah Malang pagi itu.
Tiba-tiba suara ibu di seberang
meredup seakan menyembunyikan sesuatu dariku, kembali ku cari tahu karena ibu
tidak biasa seperti itu, meski dalam hati sempat menerka-nerka apakah ayah di
rumah sehat-sehat aja, adek semoga dalam keadaan yang sama dan om
tercinta pun baik-baik saja. Usai Ibu lancar berbohong dengan semua yang aku
tanyakan di percakapan telefon akhirnya aku minta untuk memberikan telfonnya ke
ayah, masih saja ibu berkelit kalau ayah sedang di kamar mandi, langsung saja
ku katakan untuk menunggu ayah hingga keluar dari kamar mandi, tapi akhirnya
ibu pun menjawab bahwa ayah sedang di rumah sakit. Entah seperti ada yang
memukul keras dadaku hingga seperti disayat sembilu, ada apa dengan ayahku?
Ku kuatkan untuk tak mengakhiri
percakapan telfon dengan segera, ibu meneteskan air mata seakan tak mampu
melanjutkan cerita dan ingin mengakhiri obrolannya denganku, aku yang masih ada
ujian klinik saat itu menjadi sangat bingung haruskah aku pulang ke rumah
Jombang dan minta ijin untuk ujian klinik sendiri yang tentunya dengan prosedur
sangat ribet. Aku masih bisa memaksa ibu melanjutkan cerita, akhirnya suara
ibuku pun keluar dengan terbata-bata
“Om Nanangmu nak,
kemarin Jumat malam kecelakaan. Sekarang di Rumah Sakit ditungguin ayahmu”.
Seperti ada tangan yang kuat
membungkam mulutku untuk mencoba membalas cerita ibu, air mataku tak bisa
ditahan untuk tidak keluar, tiba-tiba deras dan persendianku terasa lemas, aku
dekat dengan semua keluargaku, ayah, ibu, adek dan om terbaikku, bahkan
dengannya aku sangat dekat. Kami tinggal serumah dari aku masih kecil
sepeninggal eyangku (ayah dari om ku), dia yang mengajariku bisa naik sepeda
pancal, berenang dan selalu mengajakku bermain dan mengenalkanku dengan
teman-temannya meski laki-laki semua, selisih usiaku dan om nanang tak jauh
beda, hanya 3th saja, mungkin itu yang membuat kami begitu akrab, bahkan dulu
saat dokter memvonis ibuku untuk tidak bisa hamil lagi, aku cukup merasa om nanang
adalah kakak sulungku padahal dia adek bungsu dari ibuku.
Om nanang sosok sederhana dan
tangguh yang aku kenal dari dulu, mungkin karena yatim dari kecil ia selalu
mengajarkan padaku untuk tidak pernah menyerah, terus berlari meski kaki
tertusuk duri, untuk tidak membiarkan mimpi dengan mudah melenggang pergi,
apapun yang kami lakukan dalam hidup selalu kita bagi dengan saling berbagi
cerita, tentang pilihan hidup, keyakinan (agama), prinsip, bahkan dari cerita
segak penting lebih seneng tidur dengan posisi tengkurap atau miring pun kami
saling bercerita, karena dia teman berbagi cerita paling bijaksana.
Kami berdua sama-sama mencintai
indahnya langit kala senja, di bukit dekat rawa 2 km dari rumah, di situ lah kami dengan puas mengagumi karya Tuhan dalam bentuk yang terlalu nyata. Tempat
itu kami namai “Sketsa Surga” sebuah bukit kecil dengan rawa disebelahnya,
tempat yang begitu indah untuk melihat sun
set dan menjadi tempat favorit untuk ngabuburit ketika bulan puasa tiba,
menikmati senja meski saat kami masih kecil hanya bisa duduk sambil nulis-nulis
di tanah pasir, terkadang hanya beli dua gelas pop ice untuk dihabiskan di
sana., serta menikmati air rawa sambil berbagi cerita tentang cita-cita
“ Kamu kalau besar
nanti pengen jadi apa?” Tanya dia sembari tertawa. Sebagaimana anak Usia 8th
sok-sok an ngomongin cita-cita.
“ Aku pengen jadi
dokter Om!! Kalau kamu?” Balasku sambil tertawa juga. Meski sekarang menyadari
bahwa jawabanku saat itu hanyalah sebuah jawaban meniru sebagian besar teman TK-ku
“Aku pengen bapak
di surga melihatku bangga, mamak (panggilan dia ke nenekku) bahagia, ayahmu,
ibumu, adekmu dan kamu pun bahagia, jadi apapun aku nanti, yang penting
bermanfaat untuk orang banyak luk-piluk (panggilan akrab dia padaku yang
artinya pipi nyempluk), tapi kalau Allah mengijinkan aku pengen jadi guru”.
Jawabnya tegas dengan kedua tangannya menjewer pipiku.
Akhirnya dia pun meraih mimpinya
setelah lulus kuliah langsung menjadi guru tepatnya sejak 4th yang lalu, dulu
sewaktu dia masih kecil tak pernah meminta mainan ataupun apa saja seperti yang
teman mainnya punya, bahkan untuk peralatan sekolah pun selalu dia jaga dan
kalaupun belum rusak dia gak bakal minta, dari kecil dia selalu gengsian kalau
dikasih sesuatu dan sering menjawab “gak mau”.dia selalu mengisi liburannya
dengan belajar dan bukti nyata dari SD hingga SMA tak pernah sekalipun ranking
dua tapi selalu menyematkan namanya sebagai peringkat pertama, sering menjuarai
lomba dan pelanggan tetap beasiswa. Terdengar genius memang, tetap karena ia ingin
melihat ayahnya di surga bahagia adalah motivasi terbesarnya.
Keluargaku semua bekerja di
bidang kesehatan, hanya dia yang getol dengan mimpinya untuk menjadi seorang
guru, dengan alasan yang sangat membuatku terharu, dia berkata
“Aku akan selalu
dekat dengan pembelajar biar aku terus belajar dan nanti kalau aku dipanggil
oleh-NYA muridku banyak yang mendoakanku, karena panjang usia bukan dari digit
angka, tapi yang ketika ia tiada banyak yang mengingat dan menyebut namanya
dalam doa, khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baiknya manusia adalah manusia
yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Itulah
alasan dia yang bagiku begitu mengagumkan dan dia dulu sempat berpesan padaku
untuk selalu memperkuat alasanku ketika melakukan sesuatu, hingga aku mantap
dengan pilihan itu. Om nanang adalah sosok sederhana penuh mimpi yang terkadang
sangat berambisi.
Tujuh
hari berlalu, dia terbaring koma di RS, tapi ibu selalu membohongiku dengan
ceritanya untuk bilang om nanang baik-baik saja karena takut aku tidak konsen
dengan ujian klinikku
Ujian
klinikku pun selesai, aku bergegas untuk segera pulang ke Jombang dan segera
menuju RS tempat om nanang dirawat tanpa memberi tahu orang rumah. Tiba di RS
akupun menuju resepsionis RS dengan nafas ngos-ngosan menanyakan pasien atas
nama Nanang Wahyu Rahmanto di kamar mana. Mbak resepsionis pun menjawab kalau
pasien atas nama Nanang Wahyu Rahmanto tadi pagi pulang.
“Om
saya sudah sembuh? Alhmadulillah.. makasih ya mbak”. Tak kubiarkan mbak
resepsionis itu menerangkan padaku lebih lanjut, aku langsung keluar untuk naik
angkot kemudian pulang ke rumah segera.
Banyak
orang menjinjing beras dalam baskom, motor dan mobil parkir di halaman depan,
serta K E R A N D A!!!! Yang kutemui ketika aku mau memasuki pintu rumah.
Perasaanku teraduk-aduk, lidahku pekat dan mencekat, mataku tiba-tiba gelap dan
gak tau apa yang ku rasa, aku pingsan.
Setelah
mendapati banyak orang disekelilingku saat siuman aku berteriak histeris, gak
mungkin yang ada dalam keranda itu om nanang, beberapa menit kemudian pun aku pingsan lagi. Siuman yang kedua baru ibu saya menerangkan kronologi kecelakaan
om nanang, ternyata sewaktu pulang dari menyalakan lampu selepas jamaah sholat
isya di SD tempat dia mengajar hujan gerimis dan om nanang tak sengaja menabrak
geng vespa rosok karena gelap. Geng vespa rosok tersebut dalam keadaan mabok,
padahal om nanang sudah meminta maaf ke mereka malah dipukul kepalanya dengan
besi tumpul yang menyebabkan dia mengalami perdarahan otak, mendengar cerita
itu aku semakin marah dan histeris, ini semua tidak mungkin om nanang sahabat
terbaikku pergi karena dibunuh geng vespa rosok bedebah itu. Aku tetap tak
percaya kalau om Nanang telah tiada.
Padahal
dua minggu kemudian dia akan menikah dengan seorang yang ia khitbah (pinang)
tanpa pacaran yang disebut dengan taaruf, tapi lagi-lagi manusia punya rencana
dan Tuhan yang punya kuasa, perjalanan hidupnya berakhir dalam tujuh hari koma
yang aku sama sekali belum menjenguknya, tidak munafik bahwa dendam begitu
penuh dalam dada.
Kini
untukmu om Nanang tercinta yang telah di surga, kami sekeluarga yang selalu
mencintaimu akan selalu mendoakanmu.. bahkan jika aku mampu, insyaALLAH ku
teruskan perjuanganmu
Dapat salam dari
dunia untukmu di sana:
- Mamakmu yang selalu
mendoakanmu bahagia di sisi-NYA, mamakmu sangat berterima kasih punya anak
sepertimu yang begitu memuliakannya dengan kesholehanmu.
- Maya calon istrimu
yang kamu panggil Aisyah berkata padaku mungkin bidadari surga lebih pantas
menemanimu di sana dari pada dia, dan akan mengingatmu selalu sebagai sosok yang
sangat baik.
- Pak Drajat akan
selalu mengenang kebaikanmu, karena kamu sudah mau jadi sahabat orang cacat
seperti beliau ketika kamu masih kuliah rela jadi tukang parkir untuk bisa
merasakan kehidupan yang lain dan dekat dengan pak Drajat.
- Bu Surtinah, wanita
65th yang lebih kau dului ke surga, dia akan selalu ingat saat kamu dengan
ikhlas mengantarjemputnya karena dia janda yang hidup sebatang kara.
- Semua muridmu di SD
1 dan 2 Tanjung Bulu, kamu guru termuda, mereka anak-anakmu yang kamu tinggalkan
terlalu cepat, selalu mendoakanmu dan merindukan keramahanmu dalam mengajar.
Kami sekeluarga selalu bangga
padamu, dengan cerita dan sahabat-sahabat yang kamu tinggalkan, bahkan dengan
semua mimpimu yang sempat kamu ceritakan padaku, aku merasa wajib untuk meneruskan
Rangkaian Aksara
dalam Sebuah Nisan Di Atas Pusara
Nanang Wahyu
Rahmanto
Wafat: Jumat 22
Maret 2013
InsyaAllah selalu
kami sebut namamu dalam tiap doa, dua kali puasa tanpamu terasa hampa..
Yang menulis ini:
Wilna Pratiwi ponakanmu yang dalam kontak HP
mu kamu namai “cincacuh dan Marcella Zalianty”
Terima kasih atas semua kebaikan yang kau
tinggalkan, peluk dari dunia untuk kamu yang telah di surga ({})