Kamis, 03 Juli 2014

#SehariBercerita Rangkaian Aksara dalam Sebuah Nisan Di Atas Pusara

“ Kamu hati-hati ya nak kalau naik motor, jalanan sekarang ramai dan jangan pulang terlalu malam kalaupun mengerjakan tugas kuliah”. Suara ibu di telefon menasehatiku

“ Iya Bu, InsyaAllah Wilna selalu hati-hati dan berusaha tidak pulang malam kalaupun ada tugas kuliah, ada apa kok Ibu tiba-tiba berpesan seperti itu tanpa menanyakan kabarku terlebih dahulu? Apa Ibu habis nonton berita TV tentang kecelakaan kah? Kabar keluarga di Jombang baik-baik saja kan?” Jawabku lancar dengan signal yang lancar di Rumah Malang pagi itu.

     Tiba-tiba suara ibu di seberang meredup seakan menyembunyikan sesuatu dariku, kembali ku cari tahu karena ibu tidak biasa seperti itu, meski dalam hati sempat menerka-nerka apakah ayah di rumah sehat-sehat aja, adek semoga dalam keadaan yang sama dan om tercinta pun baik-baik saja. Usai Ibu lancar berbohong dengan semua yang aku tanyakan di percakapan telefon akhirnya aku minta untuk memberikan telfonnya ke ayah, masih saja ibu berkelit kalau ayah sedang di kamar mandi, langsung saja ku katakan untuk menunggu ayah hingga keluar dari kamar mandi, tapi akhirnya ibu pun menjawab bahwa ayah sedang di rumah sakit. Entah seperti ada yang memukul keras dadaku hingga seperti disayat sembilu, ada apa dengan ayahku?

     Ku kuatkan untuk tak mengakhiri percakapan telfon dengan segera, ibu meneteskan air mata seakan tak mampu melanjutkan cerita dan ingin mengakhiri obrolannya denganku, aku yang masih ada ujian klinik saat itu menjadi sangat bingung haruskah aku pulang ke rumah Jombang dan minta ijin untuk ujian klinik sendiri yang tentunya dengan prosedur sangat ribet. Aku masih bisa memaksa ibu melanjutkan cerita, akhirnya suara ibuku pun keluar dengan terbata-bata

“Om Nanangmu nak, kemarin Jumat malam kecelakaan. Sekarang di Rumah Sakit ditungguin ayahmu”.

     Seperti ada tangan yang kuat membungkam mulutku untuk mencoba membalas cerita ibu, air mataku tak bisa ditahan untuk tidak keluar, tiba-tiba deras dan persendianku terasa lemas, aku dekat dengan semua keluargaku, ayah, ibu, adek dan om terbaikku, bahkan dengannya aku sangat dekat. Kami tinggal serumah dari aku masih kecil sepeninggal eyangku (ayah dari om ku), dia yang mengajariku bisa naik sepeda pancal, berenang dan selalu mengajakku bermain dan mengenalkanku dengan teman-temannya meski laki-laki semua, selisih usiaku dan om nanang tak jauh beda, hanya 3th saja, mungkin itu yang membuat kami begitu akrab, bahkan dulu saat dokter memvonis ibuku untuk tidak bisa hamil lagi, aku cukup merasa om nanang adalah kakak sulungku padahal dia adek bungsu dari ibuku.

     Om nanang sosok sederhana dan tangguh yang aku kenal dari dulu, mungkin karena yatim dari kecil ia selalu mengajarkan padaku untuk tidak pernah menyerah, terus berlari meski kaki tertusuk duri, untuk tidak membiarkan mimpi dengan mudah melenggang pergi, apapun yang kami lakukan dalam hidup selalu kita bagi dengan saling berbagi cerita, tentang pilihan hidup, keyakinan (agama), prinsip, bahkan dari cerita segak penting lebih seneng tidur dengan posisi tengkurap atau miring pun kami saling bercerita, karena dia teman berbagi cerita paling bijaksana.
                
     Kami berdua sama-sama mencintai indahnya langit kala senja, di bukit dekat rawa 2 km dari rumah, di situ lah kami dengan puas mengagumi karya Tuhan dalam bentuk yang terlalu nyata. Tempat itu kami namai “Sketsa Surga” sebuah bukit kecil dengan rawa disebelahnya, tempat yang begitu indah untuk melihat sun set dan menjadi tempat favorit untuk ngabuburit ketika bulan puasa tiba, menikmati senja meski saat kami masih kecil hanya bisa duduk sambil nulis-nulis di tanah pasir, terkadang hanya beli dua gelas pop ice untuk dihabiskan di sana., serta menikmati air rawa sambil berbagi cerita tentang cita-cita

“ Kamu kalau besar nanti pengen jadi apa?” Tanya dia sembari tertawa. Sebagaimana anak Usia 8th sok-sok an ngomongin cita-cita.

“ Aku pengen jadi dokter Om!! Kalau kamu?” Balasku sambil tertawa juga. Meski sekarang menyadari bahwa jawabanku saat itu hanyalah sebuah jawaban meniru sebagian besar teman TK-ku

“Aku pengen bapak di surga melihatku bangga, mamak (panggilan dia ke nenekku) bahagia, ayahmu, ibumu, adekmu dan kamu pun bahagia, jadi apapun aku nanti, yang penting bermanfaat untuk orang banyak luk-piluk (panggilan akrab dia padaku yang artinya pipi nyempluk), tapi kalau Allah mengijinkan aku pengen jadi guru”. Jawabnya tegas dengan kedua tangannya menjewer pipiku.

     Akhirnya dia pun meraih mimpinya setelah lulus kuliah langsung menjadi guru tepatnya sejak 4th yang lalu, dulu sewaktu dia masih kecil tak pernah meminta mainan ataupun apa saja seperti yang teman mainnya punya, bahkan untuk peralatan sekolah pun selalu dia jaga dan kalaupun belum rusak dia gak bakal minta, dari kecil dia selalu gengsian kalau dikasih sesuatu dan sering menjawab “gak mau”.dia selalu mengisi liburannya dengan belajar dan bukti nyata dari SD hingga SMA tak pernah sekalipun ranking dua tapi selalu menyematkan namanya sebagai peringkat pertama, sering menjuarai lomba dan pelanggan tetap beasiswa. Terdengar   genius memang, tetap karena ia ingin melihat ayahnya di surga bahagia adalah motivasi terbesarnya.

     Keluargaku semua bekerja di bidang kesehatan, hanya dia yang getol dengan mimpinya untuk menjadi seorang guru, dengan alasan yang sangat membuatku terharu, dia berkata 

“Aku akan selalu dekat dengan pembelajar biar aku terus belajar dan nanti kalau aku dipanggil oleh-NYA muridku banyak yang mendoakanku, karena panjang usia bukan dari digit angka, tapi yang ketika ia tiada banyak yang mengingat dan menyebut namanya dalam doa, khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

     Itulah alasan dia yang bagiku begitu mengagumkan dan dia dulu sempat berpesan padaku untuk selalu memperkuat alasanku ketika melakukan sesuatu, hingga aku mantap dengan pilihan itu. Om nanang adalah sosok sederhana penuh mimpi yang terkadang sangat berambisi.

      Tujuh hari berlalu, dia terbaring koma di RS, tapi ibu selalu membohongiku dengan ceritanya untuk bilang om nanang baik-baik saja karena takut aku tidak konsen dengan ujian klinikku

     Ujian klinikku pun selesai, aku bergegas untuk segera pulang ke Jombang dan segera menuju RS tempat om nanang dirawat tanpa memberi tahu orang rumah. Tiba di RS akupun menuju resepsionis RS dengan nafas ngos-ngosan menanyakan pasien atas nama Nanang Wahyu Rahmanto di kamar mana. Mbak resepsionis pun menjawab kalau pasien atas nama Nanang Wahyu Rahmanto tadi pagi pulang.

“Om saya sudah sembuh? Alhmadulillah.. makasih ya mbak”. Tak kubiarkan mbak resepsionis itu menerangkan padaku lebih lanjut, aku langsung keluar untuk naik angkot kemudian pulang ke rumah segera.

     Banyak orang menjinjing beras dalam baskom, motor dan mobil parkir di halaman depan, serta K E R A N D A!!!! Yang kutemui ketika aku mau memasuki pintu rumah. Perasaanku teraduk-aduk, lidahku pekat dan mencekat, mataku tiba-tiba gelap dan gak tau apa yang ku rasa, aku pingsan.

     Setelah mendapati banyak orang disekelilingku saat siuman aku berteriak histeris, gak mungkin yang ada dalam keranda itu om nanang, beberapa menit kemudian pun aku pingsan lagi. Siuman yang kedua baru ibu saya menerangkan kronologi kecelakaan om nanang, ternyata sewaktu pulang dari menyalakan lampu selepas jamaah sholat isya di SD tempat dia mengajar hujan gerimis dan om nanang tak sengaja menabrak geng vespa rosok karena gelap. Geng vespa rosok tersebut dalam keadaan mabok, padahal om nanang sudah meminta maaf ke mereka malah dipukul kepalanya dengan besi tumpul yang menyebabkan dia mengalami perdarahan otak, mendengar cerita itu aku semakin marah dan histeris, ini semua tidak mungkin om nanang sahabat terbaikku pergi karena dibunuh geng vespa rosok bedebah itu. Aku tetap tak percaya kalau om Nanang telah tiada.

      Padahal dua minggu kemudian dia akan menikah dengan seorang yang ia khitbah (pinang) tanpa pacaran yang disebut dengan taaruf, tapi lagi-lagi manusia punya rencana dan Tuhan yang punya kuasa, perjalanan hidupnya berakhir dalam tujuh hari koma yang aku sama sekali belum menjenguknya, tidak munafik bahwa dendam begitu penuh dalam dada.

      Kini untukmu om Nanang tercinta yang telah di surga, kami sekeluarga yang selalu mencintaimu akan selalu mendoakanmu.. bahkan jika aku mampu, insyaALLAH ku teruskan perjuanganmu

Dapat salam dari dunia untukmu di sana:

  • Mamakmu yang selalu mendoakanmu bahagia di sisi-NYA, mamakmu sangat berterima kasih punya anak sepertimu yang begitu memuliakannya dengan kesholehanmu.
  • Maya calon istrimu yang kamu panggil Aisyah berkata padaku mungkin bidadari surga lebih pantas menemanimu di sana dari pada dia, dan akan mengingatmu selalu sebagai sosok yang sangat baik.
  • Pak Drajat akan selalu mengenang kebaikanmu, karena kamu sudah mau jadi sahabat orang cacat seperti beliau ketika kamu masih kuliah rela jadi tukang parkir untuk bisa merasakan kehidupan yang lain dan dekat dengan pak Drajat.
  • Bu Surtinah, wanita 65th yang lebih kau dului ke surga, dia akan selalu ingat saat kamu dengan ikhlas mengantarjemputnya karena dia janda yang hidup sebatang kara.
  • Semua muridmu di SD 1 dan 2 Tanjung Bulu, kamu guru termuda, mereka anak-anakmu yang kamu tinggalkan terlalu cepat, selalu mendoakanmu dan merindukan keramahanmu dalam mengajar.

     Kami sekeluarga selalu bangga padamu, dengan cerita dan sahabat-sahabat yang kamu tinggalkan, bahkan dengan semua mimpimu yang sempat kamu ceritakan padaku, aku merasa wajib untuk meneruskan

Rangkaian Aksara dalam Sebuah Nisan Di Atas Pusara
Nanang Wahyu Rahmanto
Wafat: Jumat 22 Maret 2013

InsyaAllah selalu kami sebut namamu dalam tiap doa, dua kali puasa tanpamu terasa hampa..

Yang menulis ini:
Wilna Pratiwi ponakanmu yang dalam kontak HP mu kamu namai “cincacuh dan Marcella Zalianty”

Terima kasih atas semua kebaikan yang kau tinggalkan, peluk dari dunia untuk kamu yang telah di surga ({})

Tidak ada komentar:

Posting Komentar