Kamis, 11 Juli 2013

#RamadhanBercerita2 : MENGAPA SAYA BERHIJAB ?


Iya Januari adalah bulan yang paling mengesankan bagi saya, mungkin sudah bisa ditebak apa yang berkesan dari bulan itu, iya di Bulan Januari itulah saya memutuskan berhijab pertama kali, awal tahun masehi yang bagus. Tanpa saya sebut tanggal dan tahunnya hanya agar saya sendiri dan Allah yang tahu niat dan apa tujuan saya berhijab.

Tidak lantas saya dari kota santri lalu saya terlahir berhijab, semuanya melalui pencarian tentang arti dan definisi berhijab, meski hati dan fikiran saya mengamini bahwa hijab wajib hukumnya bagi seorang muslimah, tapi saya baru mengenakannya beberapa tahun yang lalu. Banyak anggapan dan pertanyaan menentang tentang kewajiban itu, sempat berfikir berpakaian yang sudah tertutup aja masih ada aturannya, “tertutup yang syar’i”, saya kira cuma shalat saja yang banyak aturan, ternyata berpakaian dan berhijab juga masih banyak aturannya.

Aturan yang saya tahu dan saya anggap ribet itu tidak dipungkiri menjadi penghambat niat mengenakan hijab, sampai akhirnya saya sadar bahwa hambatan itu bersifat relatif dan masih bisa diatasi, artinya semakin banyak hambatan dan mampu mengatasi hambatan tersebut ,maka seseorang itu akan bertambah kedewasaannya, seperti halnya semakin banyak cobaan semakin tegar seseorang, kecuali yang punya solusi singkat bunuh diri hanya dengan masalah tidak bisa ganti DP BBMnya, mungkin suatu saat bakal juga dijumpai seseorang bakal bunuh diri hanya karna lupa cara mengirim SMS.

Terlahir dari keluarga yang lumayan Islami dan menerapkan hukum-hukum keislaman tidak kemudian membuat saya menjadi wanita Islami, karena saya berada diantara sepupu dan banyak saudara laki-laki, mungkin hal tersebut yang membuat saya terkadang berfikir nanti saja lah berhijab. Abah dan ummi saya orangnya demokratis, memberikan saya buku atau memberi tahu acara TV dll yang bernuansa Islam serta saya sendiri diberi kebebasan untuk berfikir kapan saya berhijab. Abah dan ummi saya lebih memilih untuk memberikan contoh dengan mengurangi nasehat agar tidak terkesan orang tua terlalu berada lebih tinggi diatas anak-anaknya, serta karena hal itulah yang menyebabkan saya begitu dekat dengan mereka , menganggap mereka adalah orang tua, teman, guru dan sahabat terdekat bagi saya.

Mungkin jika ditanya siapa orang di dunia ini yang saya percaya, saya akan dengan tegas menjawab itu abah saya. Mengapa demikian? Karena sampai sekarang abah belum pernah membuat saya kecewa atas apa yang beliau perankan sebagai kepala rumah tangga, cara beliau memperlakukan istri, anak-anaknya dan orang disekitarnya cukup menjadikan saya berfikir kalau saya harus mempercayai beliau sebagai sosok imam dalam keluarga.


Sebelum saya berhijab pernah ada tetangga sebelah yang ghibah dan lebih trendnya disebut gosip kurang lebih seperti ini

"Anaknya haji kok gak berhijab?"

Mendengar kata-kata itu seperti terhenti aktivitas saya untuk menelan ludah, ada perasaan saya tidak berhijab tetapi Abah dan keluarga saya yang diikut-ikutkan, mereka tidak salah. Pantaskah saya dianggap sebagai anak yang sudah percaya abahnya, bisa saya jawab sendiri itu “belum pantas”. Saya pun mengungkapkan pada abah apa yang saya dengar dari tetangga dan yang membuat saya tersentuh abah saya cuma jawab

“ Abah yakin putri abah sudah besar, sudah bisa mengerti mana yang baik dan yang buruk. Tidak pasti kan kalau orang yang ngomongin kita itu lbih baik dari kita? Tapi samean juga jangan menganggap mereka lebih buruk dari samean, dan menjadi kewajiban bagi setiap individu untuk yang diomongkan dan yang mengomongkan itu masing-masing bisa berbenah diri”

SubhannALLAH seperti berada di bawah air terjun yang turun dengan lembutnya apa yang dikatakan abah, saya tidak merasa dipaksa

Seperti gadis-gadis lainnya, saya juga tergoda dengan baju-baju lucu, kegiatan bermain yang mungkin akan menjadi tidak nyaman jika saya menggunakan hijab, saya pun sempat berstatement klasik kalau saya akan menghijabi hati dulu, tidak pernah telat seharipun berdiskusi dengan abah tentang hal itu.

Beliau mengatakan “ bahwa tidak harus menjadi sempurna untuk melakukan hal yang kita anggap baik dan susah untuk dilakukan, tidak ada yang perlu dihijabi dari hati, hati kan tidak terlihat?” sambil mengangguk santun saya pun mulai merenungkan setiap apa yang disampaikan abah lewat dakwah kecilnya.

Beliau sering memberikan saya buku-buku tentang hijab, sedangkan yang saya tahu definisi hijab sendiri adalah menutup aurat dengan kain agar tidak kelihatan lekuk tubuh dengan pakaian yang longgar, menutup dada dan tidak terlalu berwarna cerah serta sederhana. Dari definisi itu saya berfikir seorang yang cantik adalah seorang yang mampu berhijab. Ada satu buku dengan judul “Saudariku, Apa yang Menghalangimu Berhijab?” diberikan abah kepada saya, kali ini beda.. biasanya abah memberinya masih terbungkus plastik, buku ini segelnya sudah terbuka, sepertinya abah mendahului saya membacanya, bahkan ada kata-kata yang  sudah di stabilo oleh beliau

“ Saudariku, di mana kau menyembunyikan sesuatu yang berharga bagimu?”
“Di tempat yang orang lain tidak bisa melihatnya”
“Sekali lagi Saudariku, di mana kau menyembunyikan sesuatu yang berharga bagimu?”
“Di tempat yang orang lain tidak bisa melihat dan mengambilnya”
“ Dan pasti auratmu itu berharga bagimu”

Melihat kata-kata dalam buku yang telah distabilo sama abah itu saya terenyuh dan merunduk, kembali ada hal yang menyentuh hati.

Pada hari minggu abah tidak pergi ke kantor, biasanya mobil kotor punya beliau , beliau sendiri yang bersihkan, mungkin hari itu terlalu capek. dan abah meminta saya  membersihkan mobilnya. Saya menemukan buku agenda milik abah, ternyata diary beliau. Banyak kata-kata mutiara dan sesuatu yang beliau tuliskan di buku itu, saya baca terus sampai pada saya menemukan kata-kata yang berhasil meneteskan air mata saya,

“ Ya Allah , di usiaku yang sudah tidak lagi muda, aku masih belum bisa sepenuhnya melaksanakan tanggung jawabku sebagai imam di keluargaku. Jika nanti KAU panggil aku, ijinkan ku bisa memasangkan kain cantik di atas mahkota kedua putri cantikku”

Abah memang sosok yang romantis bagi ummi, bahkan saya. Melihat kata-kata itu seperti air mata ini keluar sendiri, apa lagi yang harus saya cari?

Besoknya saya mengalami mimpi yang mungkin terbilang aneh, entah itu kebetulan atau karena kepikiran , saya mimpi ada nenek tua mendatangi saya, saya ingat sekali raut mukanya seperti apa padahal saya tidak mengenalnya, nenek itu mengajak ke tempat yang banyak air mengalir jernih, di situ nenek tua mengajariku berwudlu dan memberikan kain persegi warna cream sambil memakaikan kain itu di kepala saya dan berkata

“Sudah saatnya di tutup”

SubhannALLAH saya terbangun, dan kaget siapa nenek tua itu, di mana tempat indah seperti itu?
Mulai hari itu juga saya berhijab.

Saya memikirkan kembali statement abah "Tidak harus menjadi yang sempurna dahulu untuk memulai melakukan suatu hal yang baik". Albert Einstein saja masih terus melakukan penelitian meski telah menemukan rumus E=Mc2 , berarti dengan sudah berhijab jangan memberikan saya predikat wanita solehah, justru dengan itu saya beranggapan bahwa saya harus lebih banyak lagi belajar tentang hijab secara syar’i

Ini semua adalah kisah nyata, dan sekarang saya berfikir
mengapa banyak wanita lebih senang terlihat cantik daripada terlihat pintar? Mungkin karena laki-laki lebih senang melihat daripada berfikir, jadi semua jawaban terserah pada kita para wanita, mau sekedar dilihat atau difikirkan?. Saya juga berfikir dengan berhijab membantu laki-laki memelihara penglihatannya. Sekian #RamadhanBercerita2 dari saya ya, maaf bila ada salah kata.. tunggu di #RamadhanBercerita3 Wassalammualaykum wr wb
@widi_ciwid

4 komentar:

  1. SUBHANALLAH :")
    Abah yang romantis, pantas jadi panutan calon" kepala keluarga :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga bisa membawa berkah dek, amin YRA

      Hapus
  2. Subhanalloh... keren nihh ceritanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih kak, sudah mampir baca.. semoga barakah AMIN :)

      Hapus