Iya Januari adalah bulan yang
paling mengesankan bagi saya, mungkin sudah bisa ditebak apa yang berkesan dari
bulan itu, iya di Bulan Januari itulah saya memutuskan berhijab pertama kali,
awal tahun masehi yang bagus. Tanpa saya sebut tanggal dan tahunnya hanya agar
saya sendiri dan Allah yang tahu niat dan apa tujuan saya berhijab.
Tidak lantas saya dari kota
santri lalu saya terlahir berhijab, semuanya melalui pencarian tentang arti
dan definisi berhijab, meski hati dan fikiran saya mengamini bahwa hijab wajib
hukumnya bagi seorang muslimah, tapi saya baru mengenakannya beberapa tahun
yang lalu. Banyak anggapan dan pertanyaan menentang tentang kewajiban itu,
sempat berfikir berpakaian yang sudah tertutup aja masih ada aturannya, “tertutup
yang syar’i”, saya kira cuma shalat saja yang banyak aturan, ternyata
berpakaian dan berhijab juga masih banyak aturannya.
Aturan yang saya tahu dan saya
anggap ribet itu tidak dipungkiri menjadi penghambat niat mengenakan hijab,
sampai akhirnya saya sadar bahwa hambatan itu bersifat relatif dan masih
bisa diatasi, artinya semakin banyak hambatan dan mampu mengatasi
hambatan tersebut ,maka seseorang itu akan bertambah kedewasaannya, seperti halnya
semakin banyak cobaan semakin tegar seseorang, kecuali yang punya solusi
singkat bunuh diri hanya dengan masalah tidak bisa ganti DP BBMnya, mungkin
suatu saat bakal juga dijumpai seseorang bakal bunuh diri hanya karna lupa cara mengirim
SMS.
Terlahir dari keluarga yang
lumayan Islami dan menerapkan hukum-hukum keislaman tidak kemudian membuat saya
menjadi wanita Islami, karena saya berada diantara sepupu dan banyak saudara
laki-laki, mungkin hal tersebut yang membuat saya terkadang berfikir nanti saja
lah berhijab. Abah dan ummi saya orangnya demokratis, memberikan saya buku atau
memberi tahu acara TV dll yang bernuansa Islam serta saya sendiri diberi kebebasan
untuk berfikir kapan saya berhijab. Abah dan ummi saya lebih
memilih untuk memberikan contoh dengan mengurangi nasehat agar tidak terkesan orang
tua terlalu berada lebih tinggi diatas anak-anaknya, serta karena hal itulah yang
menyebabkan saya begitu dekat dengan mereka , menganggap mereka adalah
orang tua, teman, guru dan sahabat terdekat bagi saya.
Mungkin jika ditanya siapa orang
di dunia ini yang saya percaya, saya akan dengan tegas menjawab itu abah saya.
Mengapa demikian? Karena sampai sekarang abah belum pernah membuat saya kecewa
atas apa yang beliau perankan sebagai kepala rumah tangga, cara beliau
memperlakukan istri, anak-anaknya dan orang disekitarnya cukup menjadikan saya
berfikir kalau saya harus mempercayai beliau sebagai sosok imam dalam keluarga.
Sebelum saya berhijab pernah ada tetangga sebelah yang ghibah dan lebih trendnya disebut gosip kurang lebih seperti ini
"Anaknya haji kok gak berhijab?"
Mendengar kata-kata itu seperti
terhenti aktivitas saya untuk menelan ludah, ada perasaan saya tidak berhijab
tetapi Abah dan keluarga saya yang diikut-ikutkan, mereka tidak salah.
Pantaskah saya dianggap sebagai anak yang sudah percaya abahnya, bisa saya
jawab sendiri itu “belum pantas”. Saya pun mengungkapkan pada abah apa yang
saya dengar dari tetangga dan yang membuat saya tersentuh abah saya cuma jawab
“ Abah yakin putri abah sudah
besar, sudah bisa mengerti mana yang baik dan yang buruk. Tidak pasti kan kalau
orang yang ngomongin kita itu lbih baik dari kita? Tapi samean juga jangan
menganggap mereka lebih buruk dari samean, dan menjadi kewajiban bagi setiap
individu untuk yang diomongkan dan yang mengomongkan itu masing-masing bisa
berbenah diri”
SubhannALLAH seperti berada di
bawah air terjun yang turun dengan lembutnya apa yang dikatakan abah, saya
tidak merasa dipaksa
Seperti gadis-gadis lainnya,
saya juga tergoda dengan baju-baju lucu, kegiatan bermain yang mungkin akan
menjadi tidak nyaman jika saya menggunakan hijab, saya pun sempat berstatement klasik kalau saya akan
menghijabi hati dulu, tidak pernah telat seharipun berdiskusi dengan abah
tentang hal itu.
Beliau mengatakan “ bahwa tidak harus menjadi sempurna untuk melakukan hal yang kita anggap baik dan susah untuk dilakukan, tidak ada yang perlu dihijabi dari hati, hati kan tidak terlihat?” sambil mengangguk santun saya pun mulai merenungkan setiap apa yang disampaikan abah lewat dakwah kecilnya.
Beliau mengatakan “ bahwa tidak harus menjadi sempurna untuk melakukan hal yang kita anggap baik dan susah untuk dilakukan, tidak ada yang perlu dihijabi dari hati, hati kan tidak terlihat?” sambil mengangguk santun saya pun mulai merenungkan setiap apa yang disampaikan abah lewat dakwah kecilnya.
Beliau sering memberikan saya
buku-buku tentang hijab, sedangkan yang saya tahu definisi hijab sendiri adalah menutup aurat dengan
kain agar tidak kelihatan lekuk tubuh dengan pakaian yang longgar, menutup dada
dan tidak terlalu berwarna cerah serta sederhana. Dari definisi itu saya
berfikir seorang yang cantik adalah seorang yang mampu berhijab. Ada satu buku dengan judul
“Saudariku, Apa yang Menghalangimu Berhijab?” diberikan abah kepada saya, kali
ini beda.. biasanya abah memberinya masih terbungkus plastik, buku ini segelnya
sudah terbuka, sepertinya abah mendahului saya membacanya, bahkan ada
kata-kata yang sudah di stabilo oleh beliau
“ Saudariku, di mana kau menyembunyikan
sesuatu yang berharga bagimu?”
“Di tempat yang orang lain tidak
bisa melihatnya”
“Sekali lagi Saudariku, di mana
kau menyembunyikan sesuatu yang berharga bagimu?”
“Di tempat yang orang lain tidak
bisa melihat dan mengambilnya”
“ Dan pasti auratmu itu berharga
bagimu”
Melihat kata-kata dalam buku yang
telah distabilo sama abah itu saya terenyuh dan merunduk, kembali ada hal yang
menyentuh hati.
Pada hari minggu abah tidak pergi
ke kantor, biasanya mobil kotor punya beliau , beliau sendiri yang bersihkan, mungkin hari itu terlalu capek. dan abah meminta saya membersihkan mobilnya. Saya menemukan buku
agenda milik abah, ternyata diary beliau. Banyak kata-kata mutiara dan sesuatu
yang beliau tuliskan di buku itu, saya baca terus sampai pada saya menemukan
kata-kata yang berhasil meneteskan air mata saya,
“ Ya Allah , di usiaku yang sudah
tidak lagi muda, aku masih belum bisa sepenuhnya melaksanakan tanggung jawabku
sebagai imam di keluargaku. Jika nanti KAU panggil aku, ijinkan ku bisa
memasangkan kain cantik di atas mahkota kedua putri cantikku”
Abah memang sosok yang romantis
bagi ummi, bahkan saya. Melihat kata-kata itu seperti air mata ini keluar
sendiri, apa lagi yang harus saya cari?
Besoknya saya mengalami mimpi
yang mungkin terbilang aneh, entah itu kebetulan atau karena kepikiran , saya
mimpi ada nenek tua mendatangi saya, saya ingat sekali raut mukanya seperti apa
padahal saya tidak mengenalnya, nenek itu mengajak ke tempat yang banyak air
mengalir jernih, di situ nenek tua mengajariku berwudlu dan memberikan kain
persegi warna cream sambil memakaikan kain itu di kepala saya dan berkata
“Sudah saatnya di tutup”
SubhannALLAH saya terbangun, dan
kaget siapa nenek tua itu, di mana tempat indah seperti itu?
Mulai hari itu juga saya
berhijab.
Saya memikirkan kembali statement abah "Tidak harus menjadi yang sempurna dahulu untuk memulai melakukan suatu hal yang baik". Albert Einstein saja masih terus melakukan penelitian meski telah menemukan rumus E=Mc2 , berarti dengan sudah berhijab jangan memberikan saya predikat wanita solehah, justru dengan itu saya beranggapan bahwa saya harus lebih banyak lagi belajar tentang hijab secara syar’i
Ini semua adalah kisah nyata, dan
sekarang saya berfikir
mengapa banyak wanita lebih
senang terlihat cantik daripada terlihat pintar? Mungkin karena laki-laki lebih
senang melihat daripada berfikir, jadi semua jawaban terserah pada kita para
wanita, mau sekedar dilihat atau difikirkan?. Saya juga berfikir dengan
berhijab membantu laki-laki memelihara penglihatannya. Sekian #RamadhanBercerita2
dari saya ya, maaf bila ada salah kata.. tunggu di #RamadhanBercerita3
Wassalammualaykum wr wb
@widi_ciwid
SUBHANALLAH :")
BalasHapusAbah yang romantis, pantas jadi panutan calon" kepala keluarga :"
semoga bisa membawa berkah dek, amin YRA
HapusSubhanalloh... keren nihh ceritanya..
BalasHapusmakasih kak, sudah mampir baca.. semoga barakah AMIN :)
Hapus