Sebuah kata yang ramai
dikumandangkan para pecinta , dianggap suatu rasa yang fitrah pada setiap
manusia, bagi saya hal itupun benar adanya karena awal dari terciptanya manusia
sendiripun karena cinta.
Cinta oleh wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta
, sehingga untuk sebuah kata atas nama “cinta” menurut saya wajar jika cinta
ada karena suatu alasan dan mempunyai tujuan. Banyak sekali alasan yang mendasari
adanya rasa cinta , ada karena penampilan fisik, kedudukan sosial, satu lagi
karena iman.
Tujuan dari cinta adalah
menyatukan dua insan hingga mencapai suatu kebahagiaan yang diimpikan, memang itulah cinta, apapun alasannya tujuannya hanya satu “kebahagiaan” ,
bagi salah satu pihak maupun kedua belah pihak.
Rasa cinta yang datang dengan
banyak alasan bahkan beda diantara kedua belah pihak seperti perbedaan fisik,
perbedaan status sosial dan lain lain mungkin masih bisa ditolelir, tetapi
menurut saya ada satu alasan cinta dengan alasan yang beda tapi bukan hal yang
mudah untuk ditolelir yakni “beda agama” yang sering disebut dengan perbedaan
keyakinan. Suatu rasa jika dihadapkan dengan perbedaan keyakinan, hal ini bukan
masalah akulturasi melainkan suatu aklamasi.
Keyakinan adalah suatu hal yang mendasar
hasil dari pemikiran setiap orang, bisa dikatakan proyeksi dari setiap tindakan
seseorang dalam kehidupannya, tapi untuk menjadi suatu alasan datangnya
perasaan cinta, keyakinan menjadi hal yang dirasakan tidak adil jika rasa cinta
sudah datang pada dua insan yang berbeda keyakinan, cinta datang karena
anugerah bukan permintaan. Lantas? Pada siapa kita serukan cinta dengan
perbedaan?
Apakah suatu hal yang wajar jika
pertama tertarik dengan seseorang kemudian kita tanyakan “Apa agamamu?”. Ini masalah
hak dan mencintai juga merupakan hak. Saat dikatakan cinta itu anugerah sang
Kuasa, pasti dalam hati bertanya sang Kuasa itu “ Tuhanmu?” ataukah “Tuhanku?”. " Mengapa Tuhan kita yang beda tapi memberikan perasaan yang sama, yakni cinta? ".
Bagi yang sudah menjalin cinta
beda agama, saya yakin banyak hal yang menjadi penghalang untuk mereka, mulai
dari keluarga, sahabat bahkan lambat laun perasaan sendiri pun akhirnya tidak
bisa dipersatukan karena kekuatan dari keyakinan masing-masing, untuk hal seperti
ini “ apakah kalian tidak berfikir sebelumnya?” . Dulunya berfikir “ gak
apa-apalah dijalani dulu, semoga waktu yang menjawab semua, mungkin saja kami
bisa seagama” untuk pernyataan tersebut bukankah menjadikan kita memaksakan
suatu yang asasi untuk orang yang kita cintai, bahkan dengan pasrah pada waktu
yang kita sendiri tidak tahu hasilnya itu sama dengan judi atau bukankah kita mempertaruhkan Tuhan? Sedangkan Tuhan pun tak pernah
mempertaruhkan kita.
Cinta yang Dia anugerahkan memang
tidak bisa ditebak datang kepada siapa, namun berfikir sebelum memutuskan untuk
hal itu rasanya harus dipertimbangkan dari awal, untuk yang asasi biarkan
itu menjadi aklamasi, karena keyakinan murni tidak bisa dipaksakan. Untuk hal
seperti itu. “Masihkah kamu mempertaruhkan TUHANmu?”
@widi_ciwid
sekian dari saya, kalau salah kata maapin ya , InsyaALLAH ketemu besok di #RamadhanBercerita6 ya
wassalamualaykum wr wb

bagus, tulisan mahal. tapi ini pendapatnya menurutku subjektif. this thing is something im liberal about, soale mama papaku juga beda agama awalnya meskipun akhire mamaku muallaf. hohoho
BalasHapuswaduh dibilang tulisan mahal sama sarjana komunikasi itu merinding brooh :D , iya sih mas,aku ngrasa gt jg, soale baru aku pandang dri aku yg bgk prnah ngrasain itu, blum nanya2 ke yang beda agama, rewrite lgi.. syuwun syam :)
Hapusga usah di rewrite.. posting lagi ajaaaaa
Hapushehe, maksudku rewrite di buku mas, namabahi referensi dri pihak yang ku anggap mempertaruhkan, hehee.. bir gak offesense
HapusWasik ini wid, gaya tulisan mu meh podo koyok SIndy. Syahdu syahdu yok opo ngunu :))
BalasHapuswidih syahdu.. hehehe, syahduan sindy riz, sindy dksi suangar dan fiktif, nek aku mncoba argumentatif, sok2an dakwah iki =D
Hapus