Sabtu, 13 Juli 2013

#RamadhanBercerita5 : Masihkah kau Mempertaruhkan Tuhanmu?



Sebuah kata yang ramai dikumandangkan para pecinta , dianggap suatu rasa yang fitrah pada setiap manusia, bagi saya hal itupun benar adanya karena awal dari terciptanya manusia sendiripun karena cinta.


Cinta oleh wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta , sehingga untuk sebuah kata atas nama “cinta” menurut saya wajar jika cinta ada karena suatu alasan dan mempunyai tujuan. Banyak sekali alasan yang mendasari adanya rasa cinta , ada karena penampilan fisik, kedudukan sosial, satu lagi karena iman.


Tujuan dari cinta adalah menyatukan dua insan hingga mencapai suatu kebahagiaan yang diimpikan, memang itulah cinta, apapun alasannya tujuannya hanya satu “kebahagiaan” , bagi salah satu pihak maupun kedua belah pihak.


Rasa cinta yang datang dengan banyak alasan bahkan beda diantara kedua belah pihak seperti perbedaan fisik, perbedaan status sosial dan lain lain mungkin masih bisa ditolelir, tetapi menurut saya ada satu alasan cinta dengan alasan yang beda tapi bukan hal yang mudah untuk ditolelir yakni “beda agama” yang sering disebut dengan perbedaan keyakinan. Suatu rasa jika dihadapkan dengan perbedaan keyakinan, hal ini bukan masalah akulturasi melainkan suatu aklamasi.


Keyakinan adalah suatu hal yang mendasar hasil dari pemikiran setiap orang, bisa dikatakan proyeksi dari setiap tindakan seseorang dalam kehidupannya, tapi untuk menjadi suatu alasan datangnya perasaan cinta, keyakinan menjadi hal yang dirasakan tidak adil jika rasa cinta sudah datang pada dua insan yang berbeda keyakinan, cinta datang karena anugerah bukan permintaan. Lantas? Pada siapa kita serukan cinta dengan perbedaan?


Apakah suatu hal yang wajar jika pertama tertarik dengan seseorang kemudian kita tanyakan “Apa agamamu?”. Ini masalah hak dan mencintai juga merupakan hak. Saat dikatakan cinta itu anugerah sang Kuasa, pasti dalam hati bertanya sang Kuasa itu “ Tuhanmu?” ataukah “Tuhanku?”. " Mengapa Tuhan kita yang beda tapi memberikan perasaan yang sama, yakni cinta? ".


Bagi yang sudah menjalin cinta beda agama, saya yakin banyak hal yang menjadi penghalang untuk mereka, mulai dari keluarga, sahabat bahkan lambat laun perasaan sendiri pun akhirnya tidak bisa dipersatukan karena kekuatan dari keyakinan masing-masing, untuk hal seperti ini “ apakah kalian tidak berfikir sebelumnya?” . Dulunya berfikir “ gak apa-apalah dijalani dulu, semoga waktu yang menjawab semua, mungkin saja kami bisa seagama” untuk pernyataan tersebut bukankah menjadikan kita memaksakan suatu yang asasi untuk orang yang kita cintai, bahkan dengan pasrah pada waktu yang kita sendiri tidak tahu hasilnya itu sama dengan judi atau bukankah kita mempertaruhkan Tuhan? Sedangkan Tuhan pun tak pernah mempertaruhkan kita.


Cinta yang Dia anugerahkan memang tidak bisa ditebak datang kepada siapa, namun berfikir sebelum memutuskan untuk hal itu rasanya harus dipertimbangkan dari awal, untuk yang asasi biarkan itu menjadi aklamasi, karena keyakinan murni tidak bisa dipaksakan. Untuk hal seperti itu. “Masihkah kamu mempertaruhkan TUHANmu?”

Masihkah kau Mempertaruhkan Tuhanmu?


@widi_ciwid

sekian dari saya, kalau salah kata maapin ya , InsyaALLAH ketemu besok di #RamadhanBercerita6 ya
wassalamualaykum wr wb

6 komentar:

  1. bagus, tulisan mahal. tapi ini pendapatnya menurutku subjektif. this thing is something im liberal about, soale mama papaku juga beda agama awalnya meskipun akhire mamaku muallaf. hohoho

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh dibilang tulisan mahal sama sarjana komunikasi itu merinding brooh :D , iya sih mas,aku ngrasa gt jg, soale baru aku pandang dri aku yg bgk prnah ngrasain itu, blum nanya2 ke yang beda agama, rewrite lgi.. syuwun syam :)

      Hapus
    2. ga usah di rewrite.. posting lagi ajaaaaa

      Hapus
    3. hehe, maksudku rewrite di buku mas, namabahi referensi dri pihak yang ku anggap mempertaruhkan, hehee.. bir gak offesense

      Hapus
  2. Wasik ini wid, gaya tulisan mu meh podo koyok SIndy. Syahdu syahdu yok opo ngunu :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. widih syahdu.. hehehe, syahduan sindy riz, sindy dksi suangar dan fiktif, nek aku mncoba argumentatif, sok2an dakwah iki =D

      Hapus